Sponsor

Jumat, 02 September 2011

Doa dan Kesaksian Sederhana yang Menguatkan


Pagi itu aku harus ke Slipi. Perjalanan ke sana dari rumahku memakan waktu 1,5 jam. Itu jika jalanan tak terlalu macet. Tetapi aku merasa agak kurang fit saat itu. Malam sebelumnya aku batuk dan sulit tidur. Batuk masih kurasakan sampai pagi. Aku memutuskan minum obat batuk sebelum berangkat. Masih ada cukup waktu untuk tidur sejenak sebelum berangkat. Obat batuk memang membuat mataku jadi berat.

Aku tidur kira-kira satu jam lalu terbangun dengan sedikit enggan karena rasanya badanku masih berat. Rasanya aku ingin di rumah saja. Tetapi aku sudah janji untuk menemui seseorang di Slipi. Ah, masak hanya karena sedikit batuk aku jadi manja begini sih? Aku teringat pernyataan bahwa jika kita keras terhadap diri kita, hidup akan menjadi lebih lunak. Entah benar atau tidak, yang jelas aku tak ingin menjadikan kantuk dan batuk menjadi alasan untuk tidak berangkat.
Untuk menuju Slipi total aku harus berganti kendaraan umum empat kali. Di dua kendaraan umum pertama, aku masih mendapat tempat duduk. Di kendaraan umum ketiga, bus sudah penuh. Biarlah, pikirku. Kalau aku tak segera naik bus itu, aku bisa terlambat. Benar, aku harus berdiri. Bus besar itu tak menyisakan tempat duduk buatku. Rasanya berdiri di bus dalam keadaan masih mengantuk terasa berat saat itu. Apalagi perjalanan masih jauh. Namun, aku memberanikan diri berdoa dalam hati, “Tuhan, aku ingin mendapat tempat duduk. Beri aku satu bangku untuk duduk.” Aku merasa, agak berlebihan jika doaku terkabul. Bus ini terus menaikkan penumpang, dan trayek tempuhnya masih jauh. Rasanya tak akan ada penumpang yang turun dalam waktu dekat.

Bus baru menempuh sepertiga dari trayeknya. “Proklamasi! Proklamasi!” Ibu yang duduk di bangku terdekatku turun! Aku mendadak terharu ketika tersadar bahwa doaku terkabul. Aku duduk menggantikan ibu tersebut. Aku bersyukur sekali Tuhan mendengar doa sederhanaku itu. Bahkan ketika aku merasa tak yakin, Tuhan masih memberi perhatian. Terima kasih Tuhan.


Belum lama aku duduk, tak lama naiklah sepasang pengamen.
“Jreng … jreng … jreng”
Sejauh timur dari barat
Kau membuang dosaku
Tiada Kauperhitungkan kesalahanku ….
Aku tertegun. Entah aku mesti merespons bagaimana. Baru saja Tuhan menghadiahiku tempat duduk di dalam bus yang mulai sesak dengan penumpang, sekarang para pengamen itu menyanyikan lagu rohani. Seolah lagu itu meyakinkanku bahwa Tuhan memang hadir dan menemani.

Lagu itu mengingatkan aku saat aku masih bekerja di sebuah penerbitan buku rohani. Setiap pagi kami berkumpul, melakukan renungan pagi bersama. Dan itu adalah salah satu lagu yang sering kami nyanyikan. Namun kali ini yang menyanyi bukan aku bersama teman-teman seruanganku, melainkan dua pengamen bersuara ala kadarnya.
Orang mungkin bisa mengatakan bahwa lagu itu tak cocok dinyanyikan di dalam bus kota. Tetapi toh, aku merasa lagu itu menghiburku. Mengingatkanku sekali lagi bahwa kasih karunia Allah begitu besar. Dia telah menebus aku–dan juga orang-orang di dalam bus kota ini jika mereka mengimani Kristus. Yesus telah menyelesaikan urusanku dengan Tuhan. Dosaku sudah dihapus. Hidup baru telah diberikan. Dan Dia juga masih menyediakan hal yang kubutuhkan, meski itu terbilang sepele di mata-Nya.

Nyanyian para pengamen itu juga mengingatkan aku untuk berani memberikan kesaksian. Mungkin kesaksian dalam bentuk lagu itu tampak ala kadarnya, tetapi toh lagu itu memberikan dampak tersendiri bagiku. Memberikan penguatan bahwa Allah tetap berkarya dan menemani meski di tempat serta suasana yang tampaknya sangat duniawi. Aku pikir, kita masing-masing bisa memberikan kesaksian mengenai penyertaan Tuhan. Jika itu bukan untuk menjangkau orang yang belum mengenal kasih karunia Allah, setidaknya bisa menguatkan sesama kaum beriman.

Aku berdoa kiranya lewat tulisan yang sederhana ini, nama Tuhan senantiasa dimuliakan. Dan kiranya kita juga ingat bahwa Allah senantiasa menyertai bahkan di saat maupun di tempat yang tampaknya Allah tak hadir di situ. (glorianet)

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” Ibrani 12:1


Oleh : Bunda Maria Santa Perawan Suci

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda jika berkenan. komentar Anda sebaiknya berhubungan dengan artikel yang dibahas, apapun komentar anda pahit, asam, asin, pedas apalagi kalau yang manis akan saya terima dengan lapang dada.

KALAU MENINGGALKAN KOMENTAR, HENDAKNYA MENINGGALKAN JEJAK ANDA

Jejaknya bisa URL web atau blog, ataukah alamat e-mailnya, sehingga jika ada pertanyaan bisa dibalas ke tempat yang jelas.

Sponsor

Pengikut